Senin, 31 Oktober 2011

PENDIDIKAN KARAKTER


Pengertaian Karakter
            Karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.[1] ; Dalam Kamus Psikologi (Daulay, 2009) di definisikan “a consistent and enduring property or quality by means of wchich a person, object, or event can be identified” (Chaplin, 1973:79).[2] ; Dalam Kamus Filsafat karakter di definisikan, character (bahasa Yunani, character, dari charassein, menajamkan, mengukir, tanda atau bukti yang dicetak pada sesuatu untuk menunjukkan hal-hal seperti kepemilikan, asal-usul, nama atau merek). Crhacter mempunyai arti: 1) Sebutan bagi jumlah total sifat seseorang,yang mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, hal-hal yang tidak disukai, kemampuan, bakat, potensi, nilai, dan pola pikir. 2) Struktur yang terkait secara relatif atau sisi sebuah kepribadian yang menyebabkan sifat seperti itu. 3) Kerangka kerja sebuah kepribadian yang secar relatif telah ditetapkan sesuai dengan sifat-sifat tertentu itu dalam meujudkan dirinya. (Kamus Filsafat, 1995: 50-51).[3]         
            Menurut Simon Philips (2008) karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu system, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.[4]
            Bila disimpulkan, pengertian karakter berarti sikap mental yang menjadi watak, tabiat, dan bawaan seseorang yang menjadi dasar dari tindakan maupun perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
            Jadi istilah pembentukan karakter dari pengertian karakter dalam penelitian ini adalah usaha maupun proses yang dilakukan oleh  pihak sekolah dalam mengarahkan, membimbing dan mendidik peserta didik yang bersifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti  dengan membentuk sistem kepercayaan dalam pola pikir[5] peserta didik yang akan mempengaruhi perilaku maupun karakternya sesuai dengan nilai atau norma-norma Islam.
Unsur-unsur Karakter
            Unsur penting yang harus diperhatikan oleh pendidik dalam kaitannya dengan terbentuknya karakter pada peserta didik adalah unsur dimensi manusia secara psikologis dan sosiologis. Karena kedua unsur tersebut akan sangat memudahkan guru selaku transformator untuk dapat membimbing, membina, sekaligus mendidik peserta didik kepada suatu karakter yang sesuai dengan nilai-nilai yang akan ditanamkan.
            Fatchul Mu’in (2011), memasukkan unsur tersebut ke dalam; sikap, emosi, kepercayaan, kebiasaan dan kemauan, dan konsep diri (self-conception). Kelima unsur inilah menurutnya yang perlu ditanamkan kepada peserta didik sehingga pertumbuhan dan perkembangan karakter peserta didik ke arah tujuan yang diinginkan akan tercapai.
1.      Sikap
Sikap merupakan konsep yang menjadi predisposisi untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perilaku tertentu sehingga sikap bukan hanya berupa gambaran kondisi internal psikologis yang murni dari individu, melainkan sikap lebih merupakan proses kesadaran yang sifatnya individual.
Keth Harrel mendefinisikan sikap dengan mengutip American Herritage Dictionary, bahwa sikap adalah cara berpikir atau merasakan dalam kaitannya dengan sejumlah persoalan. (Mu’min, 2011: 168)
2.      Emosi
Kata emosi diadopsi dari bahasa latin emovere (e berarti luar dan movere berarti bergerak), dan dalam bahasa Perancis emouvoir yang berarti kegembiraan. Jadi emosi bisa diartikan sebagai gejala dinamis dalam situasi yang dirasakan manusia, yang disertai dengan efeknya pada kesadaran, perilaku, dan juga merupakan proses fisiologis[6]. Misalnya, saat kita merespons sesuatu yang melibatkan emosi, maka pada saat itu juga kita mengetahui makna apa yang kita hadapi (kesadaran). Emosi juga identik dengan perasaan yang kuat.
Daniel Goleman (Mu’in: 2011), memberikan pengertian emosi sebagai kemampuan jiwa manusia untuk merasakan gejala yang disebabkan pengaruh dari luar sehingga menyebabkan marah, sedih, takut, nikmat, cinta, kaget, jengkel, dan perasaan malu. Lebih lanjut Goleman menyatakan bahwa emosi adalah sebagai bagian dari kecerdasan, karena emosi merupakan komponen yang tak terpisahkan dari kecerdasan walaupun emosi bukanlah kecerdasan. Akan tetapi dengan emosi bisa mendukung kecerdasan maupun kebodohan. Belakangan ini, banyak para ahli yang mengusung adanya kecerdasan emosional, suatu langkah mencerdaskan diri dengan memaksimalkan manajemen emosi, dan mencoba mengkritik efek-efek buruk dari penggunaan kecerdasan intelektual semata.
Kata emosi yang mendapatkan konotasi negatif, mendapatkan kritikan dari Erich Fromm, ia menyatakan bahwa tidak selamanya emosi itu negatif. Karena menurutnya sebagian masyarakat masih banyak yang belum mampu memelihara dan mendorong emosinya   keranah keberadaannya yang tepat kepada pemikiran yang kreatif (kecerdasan) sehingga menghasilkan sentimentalis[7] dan sifat yang tidak idealisme[8].
3.      Kepercayaan
Kepercayaan merupakan komponen kognitif manusia dari factor sosiopsikologis, artinya sesuatu itu dianggap “benar” atau “salah" berdasarkan bukti, sugesti otoritas, pengalaman, dan intuisi. Jadi sebagian kepercayaan itu terbentuk oleh pengetahuan. Kepercayaan memberikan prespektif pada manusia dalam memandang kenyataan dan ia memberikan dasar bagi manusia untuk mengambil pilihan dan menentukan keputusan. Apa yang kita ketahui membuat kita menentukan pilihan karena kita percaya apa yang kita ambil berdasarkan apa yang kita ketahui.
Secara epistemologis,  kebenaran pengetahuan manusia diperoleh melalui tiga cara, yaitu;  pengetahuan sains yaitu kebenarannya ditentukan secara logis dan bukti empiris (eksperiman), pengetahuan filsafat[9] yaitu kebenaran itu diukur dengan logis atau tidak logis, dan pengetahuan mistik yaitu kebenaran diukur atau ditentukan oleh rasa, yakin, dan kadang-kadang empiris.
Membangun kepercayaan sangat berguna dalam suatu hubungan. Jika hubungan memiliki basis kepercayaan yang kuat, maka hubungan itu akan baik.
4.      Kebiasaan dan kemauan
Kebiasaan adalah komponen konatif dari factor sosiopsikologis. Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis, dan tidak direncanakan. Kebiasaan merupakan hasil pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulang berkali-kali.
Sedangkan kemauan erat kaitannya dengan tindakan manusia, bahkan ada yang mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan. Menurut Richard Dewey dan W.J. Humber (Mu’in: 2011), mendefinisikan kemauan sebagai hasil keinginan untuk mencapai tujuan tertentu berdasarkan pengetahuan yang dipengaruhi oleh kecerdasan dan energi.
5.      konsep diri (self-conception)
proses konsepsi diri merupakan proses totalitas, baik sadar maupun tidak yang dilakukan dalam usaha bagaimana karakter dan diri itu dibentuk. Konsepsi diri adalah tentang bagaimana manusia itu harus membangun dirinya, apa yang diinginkannya, dan bagaimana cara menempatkan dirinya dalam kehidupan.
Dalam ilmu psikologi sosial, konsep diri berkaitan dengan fakta bahwa manusia tidak hanya menanggapi orang lain, tetapi juga bagaimana manusia itu meresepsi dirinya sendiri. 
Menurut Chrales Horton Cooley, manusia dalam banyak hal disebutkan dalam teorinya sebagai gejala looking-glass self  yaitu membayangkan dirinya sebagai orang lain di dalam benaknya sehingga munculah penilaian bahwa sebelum mengenal diri kita, terlebih dahulu kita harus mengenal orang lain. Dan inilah yang disebut dengan konsep diri atau self-conception.
William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai, “Those physical, social, and psychological perceptions of ourselves that we had derived from experiences and our iteraction with others.” Terbentuknya fisik, hubungan social dan kejiwaan manusia sangat dipengaruhi oleh pengamatan dan pemahamannya dari pengalaman dan interaksinya dengan orang lain.
Dalam ilmu psikologi social, konsep diri dibagi kedalam dua komponen penting, yaitu komponen kognitif[10] dinamakan “citra diri” (self-image), dan komponen afektif [11]dinamakan “harga diri” (self-esteem). Kedua komponen tersebut sangat berperan dalam membangun karakter, yang berkaitan dengan tingkah laku dan cara berkomunikasi dengan orang lain.
Jadi, harga diri dan citra diri merupakan dua komponen yang harus dimilikioleh manusia, karena harga diri yang rendah akan membuat citra diri seseorang juga rendah. Pada akhirnya membuat seseorang kehilangan kesadaran bahwa dirinya memiliki potensi (komponen afektif) untuk mengubah diri menjadi lebih baik.


[1]     Ibid, Hal. 104
[2]    Daulay, Haidar Putra, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesi, Jakarta: Rineke Cipta, Hal. 132
[3]    Ibid, Hal. 132
[4]Mu’in, Fatchul, Pendidikan Karakter: Konstruksi Teoritik dan Praktik, Ar-Ruzz Media: Jogjakarta. Cet. I, 2011, Hal. 160
[5]              Tentang pola pikir, Joseph Murphy mengatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat satu pikiran yang memiliki ciri yang berbeda, yang kemudian membedakan kedalam dua istilah yaitu; pertama, pikiran sadar (conscious mind) atau pikiran objektif, dan kedua pikiran bawah sadar (subconscious mind) atau pikiran subjektif. Dan selanjutnya,  Adi W. Gunawan memberikan pemahaman dari pikiran sadar dan bawah sadar kedalam fungsinya masing-masing. Pikiran sadar yang secara fisik terletak di bagian konteks otak bersifat logis dan analisis dengan memiliki pengaruh sebesar 12 % dari kemampuan otak. Sedangkan pikiran bawah sadar secara fisik terletak di medulla oblongata yang sudah terbentuk ketika masih di dalam kandungan. Karena itu, ketika bayi yang dilahirkan menangis, bayi tersebut akan tenang di dekapan ibunya karena dia sudah merasa tidak asing lagi dengan detak jantung ibunya. Pikiran bawah sadar bersifat netral dan sugestif. Untuk memahami cara kerja pikiran, kita perlu tahu bahwa pikiran sadar (conscious) adalah pikiran objektif yang berhubungan dengan objek luar dengan menggunakan panca indra sebagai media dan sifat pikiran sadar ini adalah menalar. Sedangkan pikiran bawah sadar (subsconscious) adalah pikiran subjektif yang berisi emosi serta memori, bersifat irasional, tidak menalar, dan tidak dapat membantah. Kerja pikiran bawah sadar menjadi sangat optimal ketika kerja pikiran sadar semakin minimal. Pikiran sadar dan bawah sadar terus berinteraksi. Pikiran bawah sadar akan menjalankan apa yang telah dikesankan kepadanya melalui sistem kepercayaan yang lahir dari hasil kesimpulan nalar dari pikiran sadar terhadap objek luar yang diamatinya. Karena, pikiran bawah sadar akan terus mengikuti kesan dari pikiran sadar, maka pikiran sadar diibaratkan seperti nahkoda sedangkan pikiran bawah sadar diibaratkan seperti awak kapal yang siap menjalankan perintah, terlepas perintah itu benar atau salah. Di sini, pikiran sadar bisa berperan sebagai penjaga untuk melindungi pikiran bawah sadar dari pengaruh objek luar. ( http://www. Google.teori-pembentukan-karakter )
[6] Fisiologis adalah keadaan manusia pada saat marah dan tegang, dimana pada saat itu jantung akan berdebar dan berdetak cepat. Maka pada saat itulah kita akan segera melakukan reaksi terhadap apa yang menimpa kita
[7] Sentimentalis artinya mudah rapuh perasaannya, yang pada akhirnya mengantarkan orans tersebut tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap orang lain maupun pada lingkungannya
[8] Tidak idealisme disini arti sederhana yang diberikan oleh penulis merupakan sikap yang tidak mau menerima dan menghayati ukuran-ukuran moral atau sikap yang tidak mau menerima suatu rencana atau program untuk kemaslahatan.
[9] Fisafat berarti berusaha menemukan  kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius. (Tafsir: 2010)
[10] -54    Komponen kognitif misalnya kita mengatakan “Saya iniorang yang tidak berguna, selalu menyusahkan orang lain”. Dan komponen afektif misalnya kita mengatakan “Saya tidak bisa menjadi orang seperti ini terus, bagaimanapun saya harus mandiri agar tidak menyusahkan orang lain”. (Fatchul Mu’in, 2011: 180)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar